Hi para pengunjung blog ku semua, kembali kita berjumpa lagi, dalam postingan kali ini saya akan membahas mengenai negosiasi, yang mana tema kali ini merupakan tema dari salah satu tugas mata kuliah di semester 5, yaitu Interpersonal Skill.
Negosiasi, mungkin dari para pembaca sering atau setidaknya pernah mendengar kata negosiasi, jika diartikan secara lurus mungkin persepsi yang ada dalam benak kita semua tertuju pada tawar-menawar untuk mengartikan kata negosiasi itu. Sebenarnya kita melakukan kegiatan negosiasi hampir setiap saat, baik kita sadari maupun tidak kita sadari, dan negosiasi juga terjadi hampir di setiap aspek kehidupan kita, baik itu yang bersifat formal maupun informal. Dan sehubungan dengan artikel saya sebelum nya yang telah membahas mengenai pemecahan konflik, negosiasi merupakan cara yang paling efektik dalam memecahkan atau mengatasi sebuah/beberapa konflikyang terjadi.
Mengapa efektif? Saya katakan efektif karena kegiatan negosiasi itu sendiri telah membentuk sebuah filsafat/ sebuah tradisi yang harus terjadi dalam hasil akhir negosiasi, dimana kedua belah pihak atau pelaku dari negosiasi sama-sama menang, atau yang biasa disebut dengan win-win solution. Jadi sangat efektif untuk menyelesaikan sebuah konflik, karena tidak ada pihak yang dirugikan. Apabila hasil akhir win-lose, itu merupakan kegiatan debat.
Dan sebagai tambahan, bahwa pelaku dari kegiatan negosiasi merupakan individu atau kelompok yang mana masing-masing meiliki kepentingan/ keinginan, dan harus keinginan/kepentinagn tersebut harus diwujudkan nya, namun keinginan nya tersebut dimiliki oleh pihak lain. Jadi, apabila disederhanakan dalam sebuah cerita, akan seperti ini :
Yeyen memiliki keinginan untuk memiliki sebuah kue brownies, namun kue brownies tersebut ada di tangan si Tuti, karena keinginan saja tidaklah cukup bagi Yeyen, maka dia berhasrat sekali ingin memiliki kue yang ada di tangan Tuti itu. Dia ingin mengambil nya namun dengan cara yang legal, maka dia berniat menukarkan kaos yang baru dibeli nya untuk ditukarkan kue brownies milik Tuti itu. Dan si Yeyen akahir nya berbicara langsung dengan Tuti dan mengunkapkan niat nya kepada Tuti, kebetulan si Tuti ternyata juga menginginkan kaos baru yang dimiliki si Yeyen, akhir nya kata sepakat pun terjadi dalam pembicaraan anatar si Yeyen dengan Tuti, dan saling memberikan/ barter barang antara kaos yeyen dengan kue brownies. Keduanya merasa untung/ tidak ada yang dirugikan dalam pertukaran tersebut. Sekilas cerita tadi merupakan salah satu kegiatan negosiasi yang bersifat informal, yang mana kedua belah pihak sama-sama menginginkan barang yang ingin sekali dimiliki, namun barang tersebut ada di pihak lain.
Jadi apabila disimpulkan dan ditambah definisi dari Oxford Dictionary, negosiasi adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh kedua belah pihak untuk memperoleh kesepakatan yang sama-sama menguntungkan nanti nya, dan negosiasi bersifat pembicaraan yang formal, maupun informal terikat waktu, dan tempat. Negosiasi itu sendiri diperlukan ketika ada kepentingan seseorang atau suatu kelompok tergantung pada perbuatan orang atau kelompok lain yang juga memiliki kepentingan-kepentingan, dimana kepentingan tersebut harus dicapai dengan jalan mengadakan kerjasama. Untuk memperkuat statement saya di atas dimana negosiasi merupakan suatu kegiatan untuk memperoleh kesepakatan yang sama-sama menguntungkan (win-win), saya akan melampirkan sumber dari pakar lain yaitu [Ron Ludlow & Fergus Panton 2000 : 141 – 142], yang menyatakan bahwa Negosiasi tidaklah untuk mencari pemenang dan pecundang; dalam setiap negosiasi terdapat kesempatan untuk menggunakan kemampuan sosial dan komunikasi efektif dan kreatif untuk membawa kedua belah pihak ke arah hasil yang positif bagi kepentingan bersama.
Dan berikut tips-tips tambahan dalam melakukan negosiasi, yang mana tips berikut ini saya dkutip dari referensi blog lain. Berikut beberapa tips nya :
Dan berikut tips-tips tambahan dalam melakukan negosiasi, yang mana tips berikut ini saya dkutip dari referensi blog lain. Berikut beberapa tips nya :
1. Understand Your Strength
Beberapa tip startegi di buku The Art of War, oleh Sun Tzu, dikatakan bahwa sudah selayaknya kita mengerti kekuatan dan kelemahan kita sebelum maju ke medan pertempuran. Begitu juga dalam proses negosiasi, kita sudah sepatutnya mengerti posisi dan situasi kita.
Strength bisa berupa sebuah konsep yang kuat dengan model bisnis yang matang, tidak hanya sebuah pernyataan atau ide dasar.
2. Understand Your Weakness
Sebelum melakukan negosiasi, sudah sepatutnya kita mengerti titik kelemahan kita. Gunanya supaya kita mengerti bagaimana menjawab atau menjelaskan hal tersebut, bila dijadikan pegangan oleh lawan.
Bila pageview masih kecil, mungkin bisa mengalihkan perhatian ke nilai positif lain yang lebih menunjang.
3. Know What They Want
Dari proses negosiasi yang berbelit ini, apa kiranya yang mereka mau? Sebuah mobil keluarga untuk jumlah anggota yang baru saja bertambah? Atau putra remaja yang beranjak dewasa, sehingga membutuhkan kendaraan sendiri?
Dengan mengerti kemauan lawan, kita bisa menyesuaikan diri dengan penawaran yang kita lakukan.
4. Start with an Agreement
Sebelum melangkah masuk dalam proses negosiasi, kedua belah pihak sudah seharusnya ada sebuah persetujuan. Bukan hanya tentang apa yang akan dinegosiasikan, tetapi latar belakang dari hal yang sedang dibicarakan.
Bukankah kita setuju bahwa jumlah pengguna internet Indonesia bakal booming dalam waktu dekat? Dan kita sudah sepantasnya bersiap-siap dari sekarang?
5. Collect Facts to Support Strength
Suatu argumentasi perlu data dan fakta penunjang, bukan hanya berdasarkan omongan. Oleh karena itu, kita perlu dukungan fakta yang relevan guna menunjang argumentasi kita yang positif.
6. Build Reasons to Cover Your Weakness
Kelemahan yang Anda miliki, dan telah disadari juga perlu perhatian khusus. Lawan kadang berpendirian keras akan kelemahan Anda, sehingga tidak menguntungkan posisi Anda dalam proses negosiasi.
Memang pageview kita masih kecil, namun kita mempunyai pembaca yang loyal dengan demografi pengguna yang sangat pas.
7. If You Hit a Wall, Try a Different Angle
Kadang dalam suatu negosiasi, lawan bisa bersikeras akan pendapatnya. Kita tidak perlu ngotot bahwa kita benar dan dia salah. Namun kita bisa berusaha melakukan pendekatan lain dari sudut pandang yang berbeda.
8. Watch, Listen, and Learn
Bila berbicara terlalu banyak, lawan akan mengetahui lebih banyak tentang kita. Kadang kita cukup diam dan membiarkan lawan berbicara, sekaligus memperhatikan gerak-gerik dan bahasa tubuhnya. Yakin atau ragu-ragu?
9. Understand Your Bottom Line
Bottom-Line dalam hal ini adalah berapa limit bawah Anda, yang harus diputuskan sebelum melakukan negosiasi. Seperti berapa jumlah jam kerja minimal untuk projek web tersebut? 40 jam? Bila harga yang ditawarkan tidak cukup untuk 40 jam kerja, maka Anda harus siap merelakan untuk tidak menerima proyek tersebut, bila harga tidak pantas. Jangan tergeret ambisi dan persuasi lawan, dengan mengerti batasan sebelum memulai.
10. Always Have a Fall Back Plan
Anda hanya patut melakukan persetujuan bila semuanya sudah jelas. Tidak perlu kita melakukan sesumbar, yang nantinya malah digunakan lawan untuk mengunci posisi kita dalam proses negosiasi. Bila memang tidak setuju, kita bisa mundur dari proses negosiasi tanpa dibebani tanggung jawab atau omongan kita sebelumnya.
Demikian lah sedikit postingan dari saya , semoga dapat bermanfaat bagi para pembaca semua. Dan saya tidak lupa saya mengucapkan terima kasih banyak kepada Ibu Yoyoh dosen Interpersonal Skill, atas segala ilmu-ilmu nya. semoga Allah paring barokah. amiin




















