RSS Feed

Friday, December 31, 2010

Perlunya Soft Skill Dalam Dunia Kerja

    Dunia kerja percaya bahwa sumber daya manusia yang unggul adalah mereka yang tidak
hanya memiliki kemahiran hard skill saja tetapi juga piawai dalam aspek soft skillnya.
Dunia pendidikanpun mengungkapkan bahwa berdasarkan penelitian di Harvard University
Amerika Serikat ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20% oleh hard skill dan sisanya 80% oleh soft skill.

    Saya pernah mebaca suatu artikel yang menyebutkan bahwa Sarjana lulusan perguruan
tinggi kita masih sulit bersaing dengan lulusan luar negeri. Bukan dari sisi keilmuan atau
kemampuan akademisnya, melainkan soft skill mereka yang payah. Berdasarkan kemampuan teknis sesuai bidang akademis masing-masing, lulusan perguruan tinggi Indonesia memang tidak kalah, bahkan berani diadu. Namun, justru hal-hal nonteknis, seperti kemampuan berbicara di depan orang banyak, rasa percaya diri, dan interaksi terhadap perubahan dengan cepat, lulusan kita masih payah.

    Dalam dunia kerja, komentar tentang kualitas para sarjana semacam, “pintar sih, tapi kok tidak bisa bekerja sama dengan orang lain” atau “jago bikin perancangan, tapi sayangnya tidak bisa meyakinkan ide hebat itu pada orang lain”, atau “baru teken kontrak 1 tahun tapi sudah mundur, kurang tahan banting, nih,”, bukannya tidak jarang telontar.
Tentunya hal itu bisa menjadi bahan evaluasi, bukan hanya bagi kampus tertentu, tetapi juga
seluruh kampus di tanah air tanpa terkecuali. Ada kecenderungan apa yang diberikan di bangku kuliah tidak sepenuhnya serasi dengan kebutuhan di lapangan kerja. Sebagian besar menu yang disajikan, boleh dibilang berupa keterampilan keras (hard skill). Padahal, bukti-bukti menunjukkan penentu kesuksesan justru kebanyakan adalah keahlian yang tergolong lunak (soft skill).

    Simak saja survei dari National Association of College and Employee (NACE), USA
(2002), kepada 457 pemimpin, tentang 20 kualitas penting seorang juara. Hasilnya berturut-
turut adalah kemampuan komunikasi, kejujuran/integritas, kemampuan bekerja sama, kemampuan interpersonal, beretika, motivasi/inisiatif, kemampuan beradaptasi, daya analitik, kemampuan komputer, kemampuan berorganisasi, berorientasi pada detail, kepemimpinan, kepercayaan diri, ramah, sopan, bijaksana, indeks prestasi (IP >= 3,00), kreatif, humoris, dan kemampuan berwirausaha.

    IP yang kerap dinilai sebagai bukti kehebatan mahasiswa, dalam indikator orang
sukses tersebut ternyata menempati posisi hampir buncit, yaitu nomor 17. Nomor-nomor yang menempati peringkat atas, malah kerap disangka syarat basa-basi dalam iklan lowongan kerja. Padahal, kualitas seperti itu benar-benar serius dibutuhkan.
 Pada proses rekrutasi karyawan, kompetensi teknis dan akademis (hard skill) lebih mudah diseleksi. Kompetensi ini dapat langsung dilihat pada daftar riwayat hidup, pengalaman kerja, indeks prestasi dan ketrampilan yang dikuasai. Sedangkan untuk soft skill biasanya dievaluasi oleh psikolog melalui psikotes dan wawancara mendalam. Interpretasi hasil psikotes, meskipun tidak dijamin 100% benar namun sangat membantu perusahaan dalam
menempatkan ‘the right person in the right place’.

    Hampir semua perusahaan dewasa ini mensyaratkan adanya kombinasi yang sesuai antara hard skill dan soft skill, apapun posisi karyawannya. Di kalangan para praktisi SDM,
pendekatan ala hard skill saja kini sudah ditinggalkan. Percuma jika hard skill oke, tetapi
soft skillnya buruk. Hal ini bisa dilihat pada iklan-iklan lowongan kerja berbagai perusahaan yang juga mensyaratkan kemampuan soft skill, seperi team work, kemampuan komunikasi, dan interpersonal relationship, dalam job requirementnya. Saat rekrutasi karyawan, perusahaan cenderung memilih calon yang memiliki kepribadian lebih baik meskipun hard skillnya lebih rendah. Alasannya sederhana : memberikan pelatihan ketrampilan jauh lebih mudah daripada pembentukan karakter. Bahkan kemudian muncul tren dalam strategi rekrutasi „ Recruit for Attitude, Train for Skill“.

    Hal tersebut menunjukkan bahwa : hard skill merupakan faktor penting dalam bekerja, namun keberhasilan seseorang dalam bekerja biasanya lebih ditentukan oleh soft skillnya yang baik. Psikolog kawakan, David McClelland bahkan berani berkata bahwa faktor utama keberhasilan para eksekutif muda dunia adalah kepercayaan diri, daya adaptasi, kepemimpinan dan kemampuan mempengaruhi orang lain. Yang tak lain dan tak bukan merupakan soft skill.

     Umumnya kelemahan dibidang soft skill berupa karakter yang melekat pada diri seseorang. Butuh usaha keras untuk mengubahnya. Namun demikian soft skill bukan sesuatu yang stagnan. Kemampuan ini bisa diasah dan ditingkatkan seiring dengan pengalaman kerja.

       Ada banyak cara meningkatkan soft skill. Salah satunya melalui learning by doing. Selain itu soft skill juga bisa diasah dan ditingkatkan dengan cara mengikuti pelatihan-pelatihan maupun seminar-seminar manajemen. Meskipun, satu cara ampuh untuk meningkatkan soft skill adalah dengan berinteraksi dan melakukan aktivitas dengan orang lain.

Manajemen Diri

     Manajemen diri adalah mengelola diri. Bagaimana kita dapat dan harus mengelola
diri kita sehingga menjadi diri yang sehat, efektif, produktif . Dalam rentang kehidupannya individu akan mengalami kebingungan tentang diri dirinya, siapa dirinya dan bagaimana orang lain memadang diri. Manusia dapat menilai diri secara multidimensi dan mengelola diri sebagai hasil penilaian yang dilakukan. Berbagai permasalahn psikologis dialami oleh individu karena individu tidak mengenal dan tidak mampu mengelola diri.
     Mengenal diri kita sendiri sangatlah penting, untuk membuat suatu rencana khusus bagi diri kita, yang mana semua rencana khusus tersebut bertujuan agar diri kita lebih efektif, produktif, ke arah yang lebih baik. Jadi memanajemen diri kita sendiri sangatlah penting untuk kesuksesan kita.
     Dan salah satu wujud dalam memanajemn diri kita adalah dengan mengatur waktu yang kita miliki dengan sebaik-baiknya, dengan mengatur seluruh waktu dengan sebaik-baik nya maka kita akan lebih produktif dalam kehidupan sehari-hari kita. Berikut ini saya akan memaparkan beberapa tips dalam mengatur waktu yang kita miliki, hal ini berkaitan dengan manajemen diri. Diantaranya:

1. Buatlah perencanaan
Anda memerlukan perencanaan kerja harian. Kalau tidak demikian, anda akan mengalokasikan
waktu menurut apa sahaja yang kebetulan tiba dimeja tulis anda. Awasilah setiap hari dengan
membuat jadual umum, dengan penekanan khusus pada dua atau tiga hal yang ingin anda
selesaikan. Makin banyak waktu yang kita lewatkan untuk merencanakan sesebuah projek, makin
sedikit waktu total yang diperlukan untuk menyelesaikannya.

2. Pusatkan perhatian
Golongan yang menghadapi masalah serius dalam hal pengurusan waktu biasanya mencba
melakukan banyak hal sekaligus. Jumlah waktu yang digunakan dalam suatu projek bukanlah hal
yang penting. Tetapi yang lebih penting ialah menyediakan jumlah waktu yang tidak
terganggu.

3. Ambillah waktu rehat
Bekerja dalam tempoh yang lama tanpa rehat bukanlah penggunaan waktu yang efektif. Tenaga
makin menurun, kebosanan makin mempengaruhi serta ketegangan fizikal dan mental makin
terkumpul. Oeh itu, anda memerlukan masa rehat yang secukupnya kerana hanya berehat sahaja
merupakan cara yang paling baik.

4. Jauhkan suasana berkecamuk
Sesetengah orang selalu membiarkan meja tulisnya dipenuhi kertas yang berselerak. Mereka mengira bahawa dengan cara itu persoalan yang penting akan naik sendiri ke atas timbunan kertas itu. Sebenarnya keadaan berkecamuk seperti ini mengganggu tumpuan serta meningkatkan ketegangan dan prestasi seperti orang yang tertimbus batu.

5. Jangan menjadi ‘perfectionist’
Ada perbedaan yang besar antara berusaha mendapat hasil yang baik dan bermati-matian mengejar kesempurnaan. Langkah yang pertama , dapat dicapai,memberi kepuasan dan sihat. Sementara langkah yang kedua, selalunya mustahil, mengakibatkan kekecewaan dan gangguan jiwa. Ia juga mengakibatkan pmbaziran waktu yang sia-sia.

6. Jangan takut mengatakan tidak
Daripada semua teknik menghemat waktu yang pernah dikembangkan, barangkali yang paling efektif ialah selalu menggunakan perkataan tidak. Belajarlah menolak dengan mengunakan kebijaksanaan tetapi tegas terhadap setiap permintaan yang tidak menunjang pencapaian sasaran anda.

7. Jangan menunda-nunda kerja
Penundaan kerja pada umumnya merupakan kebasaan yang sudah berakar umbi. Sungguhpun begitu, kita mampu mengubah kebiaaan ini asalkan kita menggunakan sistem yang tepat seperti putuskan untuk berubah segera setelah anda selesai membaca artikel ini, sementara hati anda tergerak oleh motivasinya. Mengambil langkah pertama dengan segera adalah amat penting. Seterusnya jangan mencuba terlalu banyak perkara dalam waktu yang singkat. Apa yang perlu dilakukan ialah memaksa dirimelakukan pekerjaan yang sudah tertunda sekarang juga.

8. Lakukanlah bedah siasat radikal
Kegiatan membuang waktu sama seperti kanser. Ia menghabiskan tenaga dan cenderung tumbuh semakin besar. Satu-satunya cara penyembuhan adalah pembedahan radikal. Jika anda membuang waktu dalam kegiatan yang membuatkan anda bosan, alihkan perhatian daripadanya kerana ia mensia-siakan tenaga anda. Buanglah kegiatan ini, seklai untuk selama-lamanya.

9. Delegasikan pekerjaan
Anda tidak perlu menjadi pemimpin nasional atau esekutif firma gergasi untuk mampu mendelegasikan pekerjaan. Sebagai peringatan, mewakilkan kepada pekerja bawahan pekerjaan yang tidak disukai oleh anda dan semua orang lain bukanlah mendelegasikannya, tetapi meberi perintah. Belajarlah mendelegasikan tugas yag penuh cabaran dan memberikan imbalan, bersama dengan kuasa secukupnya untuk membuat keputusan yang perlu. Ini dapat membantu melonggarkan waktu anda.

10. Jangan kecanduan kerja
Hampir semua eksekutif berjaya mempunyai jam kerja yang panjang, tetapi mereka tidak membiarkan pekerjaan mengganggu hal-hal yang pentig dalam hidup mereka, seperti bergaul dengan teman-teman dan berbual kosong.Ini membezakan mereka daripada orang yang kecanduan kerja yang sama tarafnya seperti orang yang kecanduan alkohol. Gejala kecanduan kerja mencakupi penolakan untuk mengambil cuti, tidak dapat menyingkirkan pejabat daripada fikiran pada hujung minggu serta isteri dan anak-anak yang asing baginya.


Selain tips diatas saya juga akan menambahkan beberapa tips mengenai diri kita agar lebih
produktif, diantarnya :

1. Menyusun Rencana
Ada ungkapan yang mengatakan ”If you fail to plan, you plan to fail”. Apabila Anda
menjalani hari Anda tanpa ada gambaran apa yang harus dikerjakan dan bagaimana cara
mengerjakannya, Anda akan menghabiskan sebagian besar waktu Anda bertanya ”Apa yang harus
saya kerjakan sekarang ya?”. Rencana memberikan peta apa yang ada dihadapan Anda hari itu.
Alokasikan sedikit waktu untuk menyusun rencana sehingga Anda bisa mengelompokkan tugas-
tugas yang sesuai dan memberikan prioritas serta waktu pengerjaannya.
Susunlah rencana di pagi hari atau hari sebelumnya. Anda bisa mulai dari catatan kecil sajaatau bahkan menyusunnya di kepala untuk sekedar memberikan sinyal kepada otak mengenai apa
yang harus Anda selesaikan hari itu.
Gunakan strategi yang cerdas dalam menyusun rencana. Kapan biasanya Anda merasa energi Anda
tinggi, baik mental maupun fisik? Buat saya biasanya waktu antara jam 10:00 sampai 12:00
adalah saat dimana saya sedang ”on fire”. Disaat itu saya manfaatkan untuk memulai atau
menyelesaikan tugas-tugas dengan prioritas tinggi. Waktu yang tersisa biasanya saya gunakan
untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan dengan prioritas lebih rendah.
Rencana tidak bersifat kaku dan selalu terbuka untuk adjustment kapanpun. Jangan lupa untuk
menyisipkan waktu untuk istirahat. Pada prinsipnya, Anda melakukan manajemen diri untuk
Anda sendiri. Belajar mengelola waktu adalah latihan yang bagus untuk disiplin diri.

2. Fokus
Seringkali dalam bekerja kita membiarkan diri kita larut dalam beberapa pekerjaan sekaligus,istilahnya multi-tasking. Mungkin Anda mencoba menyenangkan boss Anda dengan mengiyakan semua permintaannya, tapi tanpa Anda sadari sebenarnya Anda justru membebani diri Anda dengan stress dan belum tentu juga apa yang Anda kerjaan akan berkualitas bagus. Mengerjakan dua hal pada saat bersamaan bukan saja membagi perhatian Anda tetapi juga membuat Anda kurang fokus yang akibatnya butuh waktu lebih lama untuk menyelesaikan itu. Fokus dalam bekerja membuat kita lebih produktif dan mengurangi bebanstress. Buat skala prioritas apabila Anda harus menyelesaikan beberapa pekerjaan dalam kurun waktu yang bersamaan.

3. Hindari Interupsi
Dua hal dalam dunia kerja sekarang ini yang menjadi sering menjadi sumber interupsi adalah: telepon dan email. Tentu saja interupsi ini tidak bisa dihindari tetapi gunakan keahlian Anda dalam manajemen diri untuk menanganinya:    Jawab telepon dari orang-orang yang berkepentingan saja pada saat Anda sedang fokus bekerja. Apabila Anda harus terpaksa menjawab, usahakan waktunya seminimal mungkin. Anda bisa menelepon balik ketika Anda sudah agak bebas.
    Cek email/FB disaat-saat tertentu saja. Okay, ini tentunya sangat berat. Anda bisa coba. Apabila tidak mungkin, usahakan untuk tidak menjawab semua email/FB tiap kali itu datang. Jawablah email/chat FB yang berkaitan dengan pekerjaan Anda saat itu dan hindari multi-tasking. Manajemen diri erat kaitannya dengan bagaimana Anda mengatur waktu Anda sehari-hari. Jangan biarkan faktor-faktor eksternal mengganggu produktifitas Anda. Apabila Anda produktif bukan hanya Anda sendiri yang senang tapi juga boss Anda. Hidup Anda lebih mudah dan stress pun berkurang.

sumber: http://www.pengembangandiri.com/

Sunday, December 26, 2010

PUBLIC SPEAKING

Salah satu cara untuk menyampaikan gagasan ide yang kita miliki atau kita ketahui untuk mempengaruhi orang lain dalam hal pengetahuannya (kognisi), perasaannya (afeksi) dan juga perilakunya (motorik atau behavior) yaitu dengan cara public speaking. Berhasil atau tidaknya sebuah pidato tergantung pada kepiawaian sang orator dalam menyampaikan materi pidato.
Public Speaking itu sendiri berasal dari 2 buah kata yang berasal dari bahasa Inggris :
-Public      : yang bermakna “umun”
-Speaking  : berbicara secara berurutan dan mengandung makna

Jadi, apabila ditarik kesimpulan dari 2 buah kata tersebut, maka pengertian dari Public Speaking adalah tata cara berbicara di depan umum / orang banyak secara runtut, terencana dengan tujuan tertentu.

            Siapa diantara kita yang tidak mengenal 2 orang kaka beradik yaitu Helmi Yahya dan Tantowi Yahya?? Pasti diantara kita semua telah mengenal sebagai seorang public figure, artis, presenter. Atau siapa di antara kita yang tidak kenal Bung Karno? Semua orang pasti mengenalnya. Mengapa mereka begitu dikenal luas oleh banyak orang? Apa kelebihan mereka dibanding orang-orang lainnya? Semuanya sepakat, kita mengenal ketiga tokoh itu karena mereka sangat pandai berbicara, pandai berpidato.

Memang benar, orang yang tadinya bukan siapa-siapa mendadak bisa berubah menjadi orang penting dan terkenal hanya karena ia memiliki kemampuan berbicara yang menarik dan meyakinkan orang lain. Kemampuan berbicara diyakini dapat meningkatkan kualitas eksistensi dan aktualisasi seseorang di tengah-tengah lingkungannya. Kemampuan orang dalam berbicara dapat menjadikan orang itu memiliki daya tarik dan pesona luar biasa bagi orang lain, sehingga ia menjadi idola yang didambakan oleh banyak orang.

Secara alamiah, setiap orang mampu berbicara. Berbicara sudah merupakan aktivitas rutin kita sehari-hari. Hasil penelitian ilmiah membuktikan, bahwa sebagian besar waktu bangun kita digunakan untuk berbicara dengan orang lain. Nyaris tidak ada seorang pun di dunia ini yang tahan untuk tidak berbicara. Kita boleh jadi tahan untuk tidak makan dan minum selama tiga hari berturut-turut (bahkan mungkin lebih), tetapi siapa yang tahan berpuasa bicara selama itu?

Kita mungkin pernah menyaksikan seseorang yang sedang berbicara/ mempresentasikan tentang suatu hal di depan orang banyak bergetar (dalam bahasa Jawa: ndredeg), suaranya tersendat-sendat, muka dan badanya basah kuyup karena guyuran keringat yang mengalir deras. Hadirin diam, terkesima…bukan karena kagum pada penampilanny tetapi karena ………. kasihan dan tidak tega melihatnya. Dalamilmu komunikasi, keadaan seperti itu disebut kecemasan berkomunikasi (communication apprehension). 

Kecemasan berkomunikasi adalah batu sandungan yang besar bagi seorang pembicara. Ia menghilangkan kepercayaan diri. Kecemasan berkomunikasi amat mempengaruhi kredibilitas komunikator. Betapa pun bagusnya pesan yang Anda sampaikan, betapa pun sistematisnya organisasi pesan yang Anda buat, tanpa kepercayaan diri dan kredibilitas, Anda akan kehilangan pengaruh dan pendengar sekaligus.

Untuk menghindari kecemasan tersebut sekaligus agar presentasi Anda menjadi baik, berikut ini saya akan memberikan beberapa tips mengenai Public Speaking yang saya ketahui :

      1.      Ketahui Ruangan
2.         Kenalilah tempat dimana Anda akan melakukan Public Speaking, datang lebih awal, kemudian analisa       ruangan seperti apa, dengan berjalan di sekitar area dimana Anda akan melakukan public speaking, dan berlatih menggunakan microphone atau alat bantu visual yang telah disiapkan. 
      2.      Berikan salam kepada para hadirin
      Dengan memberikan salam kita akan terasa lebih dekat dengan para hadirin.
      3.      Kuasai Materi
      Kuasai materi yang akan Anda bawakan, berlatih pidato tentang materi tersebut sebelum melakukan public speaking, apabila perlu diulang, ulangilah latihan pidato tersebut, karena apabila suatu materi tidak dikuasai, diri kita akan tidak terbiasa dan tidak nyaman dengan materi tersebut, hal ini akan meningkatkan rasa gugup kita ketika telah dihadapan para hadirin.
     4.      Tenang
Redakan ketegangan diri Anda dengan melakukan latihan.
     5.      Jangan Meminta Maaf
    Apabila Anda sedang gugup atau grogi saat di depan banyak orang dalam melakukan public speaking, jangan menunjukannya dengan meminta maaf kepada para hadirin, karena mereka tidak melihat apakah si pembicara hebat dalam melakukan public speaking atau tidak, yang mereka tahu Andalah orang yang pantas untuk berbicara di depan, tetaplah sembunyikan kegugupan Anda.
    6.      Sadarilah bahwa orang ingin Anda berhasil.
Mereka tidak ingin Anda gagal. Audiens ingin Anda menjadi menarik, menstimulasi, informatif, dan   menghibur.
    7.      Lakukan Pembukaan atau Permulaan dengan sebaik mungkin, hal ini menunjukan bahwa presentasi Anda/ Public Speaking Anda telah sukses setengah nya.
    8.      Perkenalkan topic yang akan disampaikan terlebih dahulu kepada para audiens.
    9.      Gunkan sedikit humor atau lelucon, berikanlah secukup nya kepada para audiens agar tidak merasa bosan dengan apa yang sedang ia dengarkan, rasa humor juga akan meningkatkan rasa antusias para audiens pada presentasi yang sedang dilakukan.
    10.  Ketahui  dengan  baik  siapakah  calon  khalayak  anda.
    11.  Berpikirlah  bahwa  anda  menguasai  semua  pesan  yang  akan  disampaikan.
    12.  Bersikap  optimis  bahwa  ketika  anda  diminta  untuk  berbicara,  maka  andalah  satu-satunya  orang  yang  menguasai  masalah  termaksud.
    13.  Jangan segan  untuk  bertemu  pandang  dengan  khalayak  secara  gentle.
    14.  Hindarkan  kata-kata  atau  kalimat  yang  ditengarai  bakal  melukai  perasaan  orang  lain  (humiliation).
    15.  Bangkitkan  semangat  khalayak  dengan  cara  meninggikan  intonasi  di  akhir  kalimat  / cheer – up. 
    16.  Hindarkan  mengenakan  busana  atau  aksesoris  yang  bakal  mengganggu  penampilan  anda.
    17.  Perhatikan  baik-baik  soal  waktu.  Hindarkan  keterlambatan  karena  anda  atau  terlalu  lama  dalam  menyampaikan  pesan. 

            Demikianlah artikel sederhana yang saya buat mengenai public speaking, semoga tulisan sederhana saya tersebut dapat bermanfaat bagi para pembaca. Amin